5. "BERDOA" KEPADA ORANG KUDUS

Kadang-kadang dipertanyakan mengapa orang-orang Katolik berdoa kepada Maria, malaikat atau orang kudus. Mengapa tidak berdoa langsung kepada Allah saja atau kepada Yesus, satu-satunya Pengantara antara manusia dengan Allah?

A. Dalam Perjanjian Lama:

  1. Abraham berdoa untuk kepentingan penduduk kota Sodom dan Gomora (Kej 18:16-33).
  2. Musa sering berdoa untuk kepentingan umat Israel, antara lain untuk memintakan ampun setelah bangsa itu berdosa dan akan dipunahkan oleh Tuhan (Kel 32:11-14).
  3. Bangsa Israel minta kepada Samuel, "Berdoalah untuk hamba-hambamu ini kepada TUHAN, Allah mu, supaya kamu jangan mati…(1 Sam 12:19).
  4. Dan sebagainya.

B. Dalam Perjanjian Baru:

  1. Yesus berdoa untuk para murid-Nya dan untuk dunia (Yoh 17).
  2. Paulus senantiasa berdoa bagi umatnya (Rm 1:10; Ef 1:16; dsb)
    Sebaliknya, Paaulus juga sadar bahwa keselamatannya tergantung juga pada doa-doa umatnya (Fil 1:19); oleh karena itu ia pun minta supaya umatnya berdoa baginya (1 Tes 5:25; 2 Tes 3:1; dsb).
  3. Yak 5:1`4-16 berbunyi: "Kalau ada seorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan… karena itu hendaklah kamu …saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."
  4. 1 Tim 2:1 berbunyi "naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang…"
  5. dan sebagainya.

Ayat-ayat di atas mengajarkan tiga hal berikut ini kepada kita:

  1. bahwa doa seseorang bisa berguna bagi orang lain. Paham ini diterima sepenuhnya dan dipraktekkan oleh setiap orang kristen, dan dikenal dengan nama doa syafaat.
  2. bahwa kita pun dapat minta pada orang lain supaya berdoa bagi kita. Jadi kita harus selalu minta sesuatu langsung kepada Allah.
  3. bahwa doa orang yang benar sangat besar kuasanya (Yak 5:16).

Dengan ketiga paham inilah maka praktek "berdoa" kepada orang kudus Maria, santo-santa dapat dibenarkan. Mengapa? Sebab Maria dan para kudus adalah anggota-anggota Gereja juga. Setelah mereka meninggal dunia dan bersatu dengan Kristus disurga, mereka tetap saudara-saudari kita, anggota satu keluarga Allah. Mereka tidak terpisah jauh dari kita, melainkan malah lebih dekat dengan kita. Maka dari itu, jika kita bisa mohon (atau "berdoa" dalam arti luas) kepada sesama manusia yang hidup didunia ini, mengapa kita tidak boleh "berdoa" atau lebih tepat "minta didoakan" kepada Maria dan para kudus yang di surga? Malah kita yakin bahwa doa-doa mereka sangat besar kuasanya sebab mereka itu orang-orang kudus yang lebih dekat pada Allah di surga. Dan sejauh membuktikan betapa besar kuasa doa Bunda Maria bagi putera-puterinya. Perlu dicatat bahwa pada hakekatnya doa-doa kepada Maria dan para kudus sebenarnya berupa permohonan supaya mereka memintakan rahmat-rahmat tertentu bagi kita. Jadi Maria dan para kudus hanyalah pengantara kita pada Kristus (atau Allah Bapa). Hal ini tidak mengurangi nilai Kristus sebagai satu-satunya pengantara antara manusia dan Bapa. Bukankah orang kristen-bukan-katolik juga berdoa langsung kepada Bapa di surga. Apakah dengan langsung berdoa kepada Allah Bapa mereka mau mengurangi peranan Kristus sebagai pengantara? Tidak bukan?

Akhirnya perlu dicatat bahwa istilah "berdoa" tentu berbeda artinya bila ditujukan pada Maria dan para kudus. "Berdoa" dalam arti tegas dan sempit memang hanya dapat ditujukan Kepada Allah.